Kurangi nasi terbuang: mulai dari centong, bukan memaksa piring kosong
Menjelang Hari Pangan Sedunia, coba ubah percakapan sebelum makanan disajikan. Porsi awal yang disepakati, kesempatan menambah, dan catatan sisa lebih berguna daripada menyalahkan orang setelah makan.

Nasi sudah memenuhi piring sebelum orang yang akan memakannya sempat menjawab. Ketika makan selesai, sisa di pinggir piring menjadi bahan teguran. Ada langkah yang lebih awal dan lebih berguna: berhenti sejenak saat memegang centong, lalu tanyakan seberapa banyak yang diinginkan. Kesempatan menambah bisa tetap terbuka tanpa menjadikan piring kosong sebagai ukuran kesopanan.
Menjelang Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2026, kebiasaan kecil di meja makan layak ditinjau. FAO mengusung tema “Innovate today. Nourish tomorrow.” untuk peringatan tahun ini. Bagi keluarga di Indonesia, salah satu penerapannya tidak harus berupa alat baru: buat cara menyajikan nasi dan lauk lebih sesuai dengan orang yang benar-benar hadir dan akan makan.
Ini bukan pengumuman aturan baru di Indonesia atau klaim bahwa semua keluarga membuang makanan dengan alasan yang sama. Panduan ini menyatukan konteks kajian Indonesia, anjuran FAO tentang porsi, dan prinsip keamanan pangan WHO. Contoh percakapan serta cara mencatat sisa di bawah merupakan usulan editorial Sona, bukan program resmi atau hasil uji pada keluarga tertentu.
Angka besar perlu dibaca dengan tahun dan cakupannya
Artikel LCDI Indonesia bertanggal 31 Januari 2022 merangkum kajian Food Loss and Waste yang diluncurkan Kementerian PPN/Bappenas pada 2021 bersama mitra. Estimasinya, timbulan kehilangan dan pemborosan pangan Indonesia pada periode 2000–2019 berada pada kisaran 23–48 juta ton per tahun. Angka itu mencakup tahapan dari produksi hingga konsumsi, bukan hanya makanan yang ditinggalkan di piring.
Karena itu, angka tersebut tidak boleh disebut sebagai jumlah sampah makanan rumah tangga Indonesia pada 2026. Ia juga tidak dapat dipakai untuk menebak berapa banyak nasi yang dibuang sebuah keluarga. Nilainya sebagai konteks adalah menunjukkan bahwa persoalan tidak berhenti di dapur: penyimpanan, penanganan, pasar, dan perilaku konsumsi sama-sama perlu diperhatikan.
Ringkasan LCDI menyebut kelebihan porsi dan perilaku konsumen di antara penyebab serta pendorong utama. Di tingkat rumah, bagian inilah yang paling mudah dibicarakan tanpa berpura-pura menyelesaikan seluruh rantai pasok. Fokusnya bukan mencari anggota keluarga yang paling boros, melainkan mengetahui kapan jumlah yang dibeli, dimasak, atau disendok tidak cocok dengan kebutuhan.
Sepakati porsi sebelum menyajikan
Dalam panduan praktisnya pada 29 September 2020, FAO menyarankan mengambil porsi lebih kecil di rumah atau berbagi hidangan besar di restoran. Untuk meja makan keluarga, terjemahan yang masuk akal adalah mulai dengan porsi yang diinginkan, bukan otomatis memenuhi piring orang lain. “Nasinya segini dulu, nanti bisa tambah” dapat menjadi tawaran, bukan larangan makan lebih banyak.
Tidak ada jumlah centong universal dalam artikel ini. Ukuran alat saji, kebutuhan energi, kegiatan, usia, dan kondisi kesehatan orang berbeda. Mengurangi nasi yang terbuang bukan sama dengan menyuruh semua orang mengurangi makan. Tujuannya mencocokkan penyajian dengan kebutuhan, sambil tetap menyediakan makanan yang cukup dan beragam.
Jika makanan disajikan bersama, biarkan orang menyampaikan pilihan porsi saat memungkinkan. Untuk anak atau anggota keluarga yang memerlukan bantuan, tawarkan pilihan dengan tenang, bukan membuat perlombaan siapa paling cepat menghabiskan piring. Bila ada kebutuhan gizi khusus atau kesulitan makan yang menetap, panduan umum tentang mubazir tidak menggantikan penilaian tenaga kesehatan.
Tamu tidak harus menerima piring penuh
Saat menjamu kerabat, tuan rumah dapat menjelaskan sejak awal bahwa makanan boleh ditambah. Dengan begitu, porsi awal secukupnya tidak perlu dibaca sebagai kurang ramah. Tanyakan pula siapa yang sudah makan atau akan datang belakangan sebelum menentukan jumlah sajian. Ini contoh pengaturan, bukan klaim bahwa suatu kebiasaan berlaku sama di seluruh Indonesia.
Untuk pesanan makan bersama, satu orang bisa mengumpulkan pilihan sebelum memesan. Jumlah peserta belum tentu sama dengan jumlah paket yang diperlukan jika sebagian membawa bekal atau sudah memiliki rencana makan lain. Sebaliknya, jangan mengurangi pesanan hanya demi mengejar target sisa nol hingga kebutuhan peserta tidak terpenuhi. Konfirmasi lebih berguna daripada menebak.
Di warung atau restoran, tanyakan apakah porsi nasi dapat disesuaikan. Tidak semua usaha menyediakan pilihan itu, dan permintaan sebaiknya disampaikan sebelum hidangan dibuat. Jika ingin berbagi hidangan, sepakati dahulu dengan teman makan serta perhatikan alergi dan kebutuhan masing-masing. Penghematan bukan alasan memaksakan pilihan makanan orang lain.
Catat alasan sisa, bukan nama orangnya
Selama beberapa kali makan, buat catatan singkat yang menjawab tiga hal: apa yang tersisa, kira-kira seberapa banyak, dan mengapa. Tak perlu membeli timbangan atau aplikasi. Keterangan seperti “nasi di wadah saji masih banyak karena dua orang makan di luar” sudah memberi petunjuk berbeda dari “sayur tidak terpakai karena terlupa di kulkas”.
- Jika nasi berulang kali tersisa di wadah saji, periksa perkiraan orang yang makan sebelum mengubah jumlah masakan berikutnya.
- Jika sisa terutama ada di piring, tinjau cara menentukan porsi awal dan kemudahan meminta tambahan.
- Jika bahan mentah terlupa, cek persediaan sebelum belanja dan letakkan bahan yang perlu dipakai lebih dahulu di tempat yang mudah terlihat.
- Jika jadwal sering berubah, buat rencana makan yang bisa disesuaikan, bukan daftar belanja besar yang mengandaikan semua orang selalu makan di rumah.
FAO juga menyarankan merencanakan makanan, membuat daftar belanja, serta memindahkan persediaan lama ke bagian depan lemari atau kulkas. Catatan rumah membantu menentukan saran mana yang relevan. Jangan mengubah taksiran sederhana menjadi klaim bahwa keluarga sudah mengurangi sampah sekian persen; pengukuran seperti itu memerlukan cara pencatatan yang konsisten.
Sisa makanan bukan ujian keberanian
Ada batas yang tidak boleh hilang ketika membahas pemanfaatan sisa: keamanan pangan. WHO merangkum prinsipnya dalam lima kunci, yaitu menjaga kebersihan, memisahkan bahan mentah dan matang, memasak hingga matang, menjaga suhu aman, serta menggunakan air dan bahan yang aman. Semangat mengurangi mubazir tidak membatalkan prinsip-prinsip itu.
Nasi yang masih di wadah saji dan makanan yang telah berada di piring seseorang tidak memiliki riwayat penanganan yang sama. Jangan mencampurkan sisa piring kembali ke hidangan bersama. Jika keamanan penyimpanan atau penanganannya diragukan, jangan memaksakan makanan untuk dimakan atau dibagikan. Artikel ini tidak menetapkan satu umur simpan yang berlaku untuk semua masakan.
Membawa pulang kelebihan hidangan juga perlu mempertimbangkan perjalanan dan penyimpanan, bukan sekadar ketersediaan kotak. Untuk kegiatan dengan banyak peserta, tanyakan prosedur kepada pengelola makanan. Mencegah kelebihan sejak pemesanan dan penyajian lebih baik daripada menjanjikan bahwa semua sisa selalu dapat diselamatkan setelah acara selesai.
Ubah satu keputusan yang bisa diulang
Tidak perlu menunggu 16 Oktober untuk mencoba satu perubahan: tanyakan porsi sebelum menyendok, cocokkan jumlah masakan dengan rencana makan, atau periksa persediaan sebelum berbelanja. Setelah beberapa kali makan, lihat apakah alasan munculnya sisa berubah. Jika masalahnya jadwal yang tidak pasti, menegur orang di meja makan tidak menyentuh penyebabnya.
Menghargai makanan bisa dimulai sebelum piring terisi. Sajikan secukupnya, beri ruang untuk menambah, dan bicarakan sisa tanpa mempermalukan siapa pun. Itulah perbedaan antara mencegah mubazir dan sekadar menuntut piring tampak bersih.
Catatan editorial. Informasi kebiasaan makan dan keamanan pangan umum berdasarkan sumber yang diperiksa pada 10 Oktober 2026, bukan anjuran pembatasan kalori, takaran gizi, atau penilaian keamanan makanan tertentu. Ikuti kebutuhan gizi pribadi dan petunjuk penanganan pangan yang sesuai; konsultasikan kebutuhan khusus kepada tenaga kesehatan.
Sumber
- FAO, Hari Pangan Sedunia 2026: tanggal 16 Oktober dan tema Innovate today. Nourish tomorrow.
- LCDI Indonesia, 31 Januari 2022: ringkasan kajian Bappenas, estimasi periode 2000–2019, cakupan rantai pasok, dan faktor kelebihan porsi
- FAO, 29 September 2020: perencanaan belanja, penataan persediaan, porsi awal lebih kecil, dan berbagi hidangan
- WHO, Five keys to safer food: prinsip kebersihan, pemisahan mentah dan matang, pemasakan, suhu, serta bahan dan air aman
Bantu kami memperbaiki
Apakah artikel ini membantu?
Masukan anonim membantu Sona News memperbaiki artikel, judul, dan penjelasan sumber.
Berikutnya

Para pemenang bekerja di negara dan kondisi yang berbeda. Yang layak dibawa pulang bukan menyalin satu model, melainkan menguji bahasa pengantar, kegunaan sehari-hari, jadwal, dukungan tutor, dan hasil belajar bersama warga.
Lanjut membaca


