Enam program literasi UNESCO 2026 memberi lima pelajaran untuk kelas komunitas
Para pemenang bekerja di negara dan kondisi yang berbeda. Yang layak dibawa pulang bukan menyalin satu model, melainkan menguji bahasa pengantar, kegunaan sehari-hari, jadwal, dukungan tutor, dan hasil belajar bersama warga.

Pada 8 September, UNESCO mengumumkan enam penerima Hadiah Literasi Internasional 2026. Mereka berasal dari Kolombia, Kerajaan Belanda, Nigeria, Lebanon, Meksiko, dan Thailand. Daftar itu bukan peringkat negara dan bukan resep tunggal. Setiap program bekerja dengan kelompok, bahasa, infrastruktur, serta tujuan yang berbeda.
Bagi pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, tutor, perpustakaan desa, dan kelompok warga di Indonesia, nilai beritanya ada pada keputusan desain di balik program tersebut. UNESCO menyoroti pembelajaran berbasis bahasa ibu, sekolah multibahasa, pusat belajar bertenaga surya, pendidikan dipercepat, lingkar belajar komunitas, dan literasi untuk komunikasi bencana serta kegiatan ekonomi.
Pelajaran pertama: bahasa ibu dapat menjadi jembatan, bukan jalan buntu
Tiga penerima King Sejong Literacy Prize menempatkan bahasa peserta sebagai bagian penting pembelajaran. Escuelas LEO di Bogotá membuka ruang lintas budaya dan multibahasa. Language Friendly School membantu sekolah memakai bahasa rumah berdampingan dengan bahasa pengantar. Project PAL di Nigeria memulai literasi dalam bahasa setempat sebelum beralih ke bahasa Inggris.
Indonesia juga memiliki banyak bahasa daerah. Repositori Kemendikdasmen memuat model bahan ajar keaksaraan berbasis bahasa ibu dan dwibahasa. Namun keputusan tidak cukup dengan menerjemahkan kartu kata. Tutor perlu menanyakan bahasa yang dipakai di rumah, pasar, layanan kesehatan, sekolah anak, dan pekerjaan. Tujuannya adalah membantu peserta bergerak antara konteks, termasuk memperkuat bahasa Indonesia, bukan menghapus bahasa yang sudah mereka kuasai.
Pelajaran kedua: mulai dari urusan yang benar-benar dilakukan warga
Program Hat Yai di Thailand mengaitkan literasi multibahasa dengan komunikasi bencana, kesadaran lingkungan, dan kegiatan ekonomi. Program Chiapas Puede menggunakan lingkar belajar komunitas dan konteks bahasa setempat. Pola ini menunjukkan bahwa membaca dan berhitung lebih mudah dipahami manfaatnya ketika bahan menyentuh keputusan nyata.
Sebelum memilih modul, minta calon peserta menyebutkan tugas yang paling sering menyulitkan. Contohnya membaca jadwal layanan, memahami label obat tanpa menebak dosis, menulis pesan kepada sekolah, menghitung kembalian, mengenali rute evakuasi, atau mengisi formulir resmi dengan pendampingan. Gunakan contoh aman tanpa menyalin data pribadi, nomor rekening, hasil medis, atau dokumen peserta ke bahan kelas.
Pelajaran ketiga: kelenturan harus punya struktur
Program untuk pemuda pengungsi di Lebanon menggunakan pendidikan dipercepat, sedangkan program lain memakai pusat komunitas atau dukungan sekolah. Jadwal lentur berguna bagi peserta yang bekerja, merawat keluarga, berpindah tempat, atau sulit menempuh jarak. Tetapi “datang kapan saja” tanpa urutan kemampuan dan tindak lanjut dapat membuat peserta kehilangan arah.
- Tetapkan kemampuan awal melalui percakapan dan tugas sederhana, bukan tes yang mempermalukan.
- Sediakan pilihan waktu atau kelompok kecil dengan tujuan mingguan yang sama.
- Catat materi yang sudah dikuasai agar pergantian tutor tidak mengulang dari nol.
- Siapkan cara menghubungi peserta yang aman dan disepakati, tanpa membuka status keaksaraan kepada orang lain.
- Tentukan jalur setelah tahap dasar, misalnya keaksaraan lanjutan, pelatihan, perpustakaan, atau layanan pendidikan lain.
Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal menjelaskan bahwa pendidikan keaksaraan Indonesia terdiri dari tahap dasar dan lanjutan. Tahap lanjutan ditujukan untuk memelihara kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan berbahasa Indonesia serta mengembangkan kompetensi usaha mandiri. Artinya, kelulusan tahap awal perlu diikuti kesempatan memakai kemampuan tersebut.
Pelajaran keempat: alat mengikuti hambatan, bukan tren
Project PAL memakai pusat literasi bertenaga surya di wilayah yang menghadapi keterbatasan akses. Itu bukan bukti bahwa setiap kelas harus membeli panel surya atau tablet. Pertanyaan pertama adalah hambatan setempat: listrik tidak stabil, cahaya malam kurang, bahan cetak mahal, sinyal lemah, perjalanan tidak aman, atau peserta membutuhkan format audio dan huruf besar.
Pilih alat setelah hambatan jelas. Lampu yang baik dan bahan cetak tahan pakai mungkin lebih penting daripada aplikasi. Di tempat lain, pesan suara dapat membantu pengulangan. Teknologi harus dapat dirawat, mempunyai biaya yang tercatat, dan tidak mewajibkan peserta menyerahkan data pribadi berlebihan. Sediakan jalur non-digital agar ketiadaan gawai tidak menutup akses.
Pelajaran kelima: nilai perubahan yang dapat diperiksa
Pengumuman UNESCO memuat angka jangkauan dan hasil yang dilaporkan program. Angka itu memberi konteks, tetapi tidak boleh dipindahkan menjadi janji untuk program baru di Indonesia. Setiap penyelenggara perlu menentukan indikator sebelum kegiatan, mencatat siapa yang belum terjangkau, dan menjelaskan cara pengukuran.
Selain kehadiran, pengelola dapat memeriksa apakah peserta mampu membaca informasi baru yang sejenis, menulis pesan yang dipahami penerima, menghitung kebutuhan sederhana, atau menggunakan informasi untuk layanan yang relevan. Minta umpan balik peserta tentang keamanan kelas, bahasa tutor, waktu, bahan, dan alasan berhenti. Hasil yang tidak baik perlu dicatat sebagai dasar perbaikan, bukan disembunyikan.
Lima pertanyaan sebelum menyalin sebuah model
- Siapa yang ikut menentukan tujuan belajar dan dalam bahasa apa?
- Tugas sehari-hari mana yang benar-benar ingin dikuasai peserta?
- Hambatan waktu, perjalanan, listrik, disabilitas, pengasuhan, dan keamanan mana yang sudah dipetakan?
- Siapa yang melatih dan mendampingi tutor ketika materi atau peserta berubah?
- Bagaimana kemajuan diukur, dilindungi privasinya, dan dihubungkan ke langkah berikutnya?
Kemendikdasmen menekankan peran pemerintah daerah, PKBM, komunitas, dan kolaborasi lintas sektor dalam penguatan keaksaraan. Kolaborasi tidak berarti menyerahkan arah program kepada penyandang dana. Warga belajar perlu ikut menilai apakah kelas berguna, dan pengelola harus terbuka mengenai biaya, target, hasil serta batas program.
Enam pemenang UNESCO menunjukkan bahwa literasi dapat dirancang dekat dengan bahasa, lingkungan, dan kebutuhan peserta. Pelajaran yang paling aman untuk dibawa ke Indonesia adalah prosesnya: dengarkan warga, uji dalam skala kecil, ukur kemampuan yang dapat dipakai, lalu perbaiki. Nama penghargaan tidak menggantikan penilaian lokal.
Catatan editorial. Artikel ini membandingkan pola desain program, bukan memberi akreditasi atau menjanjikan hasil yang sama. Data capaian dalam pengumuman UNESCO berasal dari program masing-masing. Penyelenggara di Indonesia perlu mengikuti aturan pendidikan, perlindungan data, aksesibilitas, serta evaluasi daerah yang berlaku.
Sumber
- UNESCO, UNESCO International Literacy Prizes 2026 reward six impactful initiatives
- UNESCO, International Literacy Day 2026
- UNESCO Institute for Lifelong Learning, Global Alliance for Literacy annual meeting 2026
- Kemendikdasmen, deskripsi program Pendidikan Keaksaraan
- Kemendikdasmen, peran pemerintah daerah dalam program keaksaraan dan literasi masyarakat
Bantu kami memperbaiki
Apakah artikel ini membantu?
Masukan anonim membantu Sona News memperbaiki artikel, judul, dan penjelasan sumber.
Berikutnya

Foto pentas, lomba, atau kelas dapat membawa lebih banyak informasi daripada wajah. Luangkan satu menit untuk meminta persetujuan, menutup penanda sekolah dan lokasi, memeriksa anak lain di latar, lalu membatasi siapa yang dapat melihat dan meneruskan.
Lanjut membaca


